4 Anak Penghafal Al Qur'an yang Luar Biasa, walaupun Memiliki Keterbatasan


Menghafal Al Qur'an tidak hanya dapat dilakukan oleh anak-anak yang sehat dan sempurna saja, lo, anak-anak yang memiliki keterbatasan juga bisa menghafal Al Qyr'an juga, Friends!  Bahkan mereka bisa menjuarai lomba penghafal Al Qur'an juga, lo, luar biasa, bukan? Fajar Abdulrokhim Wahyudiono, Muhammad Naja Hudia Afifurohman, Sarah Al-Balushi, dan Syekh Jihad Al Maliki adalah beberapa nama penghafal Al Qur'an dengan keterbatasan yang dimiliki.  Yuk, kita kupas latar belakang anak-anak tersebut, sehingga dapat menjadi penghafal Al Qur'an yang luar biasa!

Dibalik Anak-Anak Penghafal Al Qur'an yang Luar Biasa

Dibalik anak-anak yang luar biasa, ada orang tua yang luar biasa atau pun orang yang luar biasa.  Tentunya untuk menjadi penghafal Al Qur'an, tidak terbentuk dengan sendirinya.  Yuk, kita kupas, sih, yang ada di balik anak-anak penghafal Al Qur'an yang luar biasa ini!

Naja, Jihad, Sarah, dan Fajar

Muhammad Naja Hudia Afifurohman

Naja, nama panggilannya adalah putera pertama dari 3 bersaudara, buah hati dari pasangan Agus Sufiyan Hidayatullah dan Dahlia Andayani yang tinggal di Mataram.  Anak laki-laki yang lahir pada tanggal 17 November 2019, sejak di dalam kandungan telah diperkenalkan dengan Al Qur'an melalui lantunan ayat-ayat Al Qur'an yang diputar melalui handphone, maupun kotak musik oleh ibunya.

Selain itu ibu Naja juga sering mengundang anak yatim, atau para santri untuk membaca Al Qur'an, tidak lupa dia menaruh air minum.  Selesai membaca Al Qur'an, air tersebut diminum, dengan harapan Naja sehat dalam kandungan, setelah meminum air yang sudah dibacakan ayat-ayat suci Al Qur'an tersebut.  Pada saat Naja masih berumur 40 hari di kandungan, para anak yatim yang biasanya dipanggil membaca Al Qur'an telah khatam Al Qur'an, demikian keterangan ibu Naja.

Pada saat lahir, Naja dalam kondisi prematur, hingga harus dirawat secara intensif di ruang anak.  Selama di ruangan inkubator, Naja tetap diperdengarkan ayat-ayat Al Qur'an.

Kemampuan Naja menghafal Al Qur'an diketahui oleh orang tuanya, saat mau masuk TK Lentera Hati Islamic Boarding School (LHIBS),  dia telah hafal 3 juz Al Qur'an, karena pada saat itu Naja di test kemampuannya membaca Al Qur'an.

Menurut dokter yang merawatnya, kondisi organ tubuh Naja dalam konidsi normal, hanya terdapat kerusakan pada sel syaraf otak dalam mengatur gerakan.  

Diusianya yang ke-9 tahun ini, Naja sudah hafal 30 juz, hal yang luar biasa, bukan?  Ternyata ada hubungannya, ya, antara kebiasaan diperdengarkan Al Qur'an sejak dalam kandungan dengan kemampuan menghafal Al Qur'an, Friends?

Fajar Abdulrokhim Wahyudiono

Fajar, pengidap Celebral Palsy, berusia 16 tahun diberi kemudahan menghafal Al Qur'an sejak berusia 4 tahun.  Anak laki-laki ini mengalami lumpuh otak, dan terlahir prematur dengan berat badan 1,6 kg.  Ia baru diketahui menderita Cerebral Palsy (lumpuh otak) pada usia 1 tahun.

Orang tua Fajar, memberinya terapi mendengarkan "murattal Al Qur'an" selama 24 jam setiap hari.  Atas takdir Allah, ternyata Fajar telah hafal Al Qur'an, berkat murattal Al Qur'an yang didengarkan setiap hari.  Saat ini Fajar sedang menghafal hadits dan telah menyelesaikan hadits Arbain.  Dia pun sudah bisa berbahasa Arab. 

Kisah tentang Fajar yang bercita-cita menjadi Imam Masjid Haram, diabadikan dalam buku "Fajar Sang Hafizh Anak Lumpuh Otak Hafal Al Qur'an" dan diluncurkan oleh AQL Pustaka pada tanggal 18 Februari 2017.  Buku ini diharapkan sebagai pelecut semangat, anak dengan keterbatasan saja bisa menghafal Al Qur'an, apalagi yang normal!  

Sarah Al Balushi

Sarah, gadis berusia 19 tahun ini menderita Cerebral Palsy, kelainan pada postur tubuh serta gangguan gerakan, karena adanya kerusakan di otaknya. yang mengatur gerakan.  Namun dengan keterbatasannya, Sarah mampu menghafal ayat-ayat Al Qur'an, lo, Friends!

Dia belajar menghafal Al Qur'an di pusat Qur'an Mohemmad bin Obaid di Dubai, Emirat Arab.  Dalam setahun, Sarah dapat menghafal Al Qur'an sebanyak 42 surat. 

Menurut Manejer Pusat Qur'an Mohammad bin Obaid, Nada Mohammed Oabaid Al Falasi, Sarah bertujuan menghafal 114 surat lainnya.  Dia juga menjelaskan pusat Qur'an ini memang fokus memberikan pengajaran bagi siswa yang mengalami keterbatasan, baik fisik maupun gangguan mental.  Menurutnya, pendekatan terbaik untuk meningkatkan keterampilan mental siswa, yaitu dengan membaca dan menghafal Al Qur'an.

Jihad Al-Maliki

Jihad yang kini berusia 18 tahun, berhasil menghafal 30 juz Al Qur'an pada usia 7 tahun.  Sang ibu sering membacakan Al Qur'an, sejak ia berada di dalam kandungan, sehingga usia 5 tahun.

Walaupun dalam keadaan buta, Jihad yang tinggal di Kota Madinah, Arab Saudi, memiliki hafalan Al Qur'an yang istimewa, yaitu sanad bacaan yang sampai kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.  Dia pun hafal nomor ayat-ayatnya serta sinonim-sinonim kata antara surat yang satu dengan yang lainnya.

Anak yang luar biasa ini mulai menghafal Al Qur'an, sejak berusia 5 tahun dengan cara mendengarkan tilawah Al Qur'an lewat radio. 7 juz pertama dihafalkan di Riyadh bersama gurunya, Syaikh Mizan, lalu menghafalkan 23 juz tersisa dengan bimbingan kedua orang tuanya di Madinah.  

Yang dilakukan Jihad dalam menghafal Al Qur'an, pertam dia mengulang ayat dan surat yang hendak dihafal dengan koreksi kedua orang tuanya. Berikutnya, menghafal setengah halaman sehari, stelah terbiasa, kemudian menghafal satu sampai dua halaman setiap hari.  Setelah dua tahun menghafal Al Qur'an, akhirnya Jihad dapat menghafal Al Qur'an dengan sempurna.

Berikutnya, Jihad menghafal 3-5 Juz Al Qur'an, selain itu ia juga belajar di Dar al Furqon, sekolah penghafal Al Qur'an serta mempelajari kandungan Al Qur'an.

Pada usia 11 tahun, Jihad telah mendapatkan sanad (pengakuan riwayat bacaan Al Qur'an) Hafs, sanad matan ilmu tajwid al-Jazariyah dan Tuhfatu al-Athfal.  Jihad sangat berbahagia dengan prestasinya, orang tuanya pun sangat bangga kepadanya. Ia bercita-cita menjadi Imam al-Haramain, menjadi Imam Masjid Nabawi atau Masjid al-Haram.

Friends, walaupun mereka mengalami keterbatasan, bukan halangan untuk menjadi penghafal Al Qur'an yang luar biasa, bukan? So, mereka bisa, tentu kita bisa juga, bukan?











Post a Comment

0 Comments